![]() | |||||||||||||||||
| Fort Willem I - 1927 sumber |
Selayang pandang :
Ambarawa merupakan salah satu kota kecamatan yang ada di
Kabupaten Semarang. Selain dikenal dengan kemacetannya, kota ini juga dikenal
karena memiliki sejarah yang cukup signifikan di Jawa Tengah.
Pada tahun 1840an ketika VOC berkuasa di Jawa Tengah, Ambarawa
merupakan titik sumbu strategis antara Semarang dan Surakarta. Pada awal abad
18, VOC membangun benteng benteng di sepanjang jalur Semarang – Oenarang
(sekarang Ungaran) – Salatiga – Surakarta (Solo). Rancangan ini dimaksudkan
untuk pengembangan hubungan dengan Kerajaan Mataram. Kamp kamp militer juga
dibangun di kota kota yang dilalui, tak terkecuali Ambarawa.
![]() |
| King Willem I sumber |
Pada masa kekuasaan Kolonel Hoorn, tahun 1827-1830, sempat
ada barak militer dan penyimpanan logistik militer, dan pada tahun 1834
dibangunlah sebuah benteng modern di Ambarawa yang kemudian diberi nama Benteng
Willem I yang pembangunannya berakhir pada tahun 1845.
![]() |
| Fort Willem I - 1927 sumber |
Tidak banyak yang bisa digali tentang sejarah dari Benteng
Willem I ini, dan beberapa sumber mengatakan bahwa benteng ini adalah barak
militer KNIL yang terhubung ke Magelang/ Jogja dan Semarang via kereta api.
Pada umumnya benteng dibangun dengan prinsip defensif dan
kuat yang dimaksudkan untuk pertahanan dari serangan musuh. Sering dijumpai
pula dibangun parit mengelilingi benteng untuk memaksimalkan pertahanan.
Namun Benteng Willem I ini ternyata memiliki desain yang
berbeda. Dengan banyak jendela, pastinya benteng ini bukan di desain untuk
pertahanan. Kemungkinan adalah untuk barak militer dan penyimpanan logistik
militer. Di benteng ini juga tidak dilengkapi bangunan sebagai tameng. Dan
tidak ada bekas bekas lobang di puncak puncak dinding seperti halnya pada
benteng benteng peninggalan Portugis yang dirancang untuk memasang meriam.
Karena keterbatasan informasi mengenai benteng ini,
sementara ini yang saya ketahui adalah dari pembangunan 1853 sampai tahun 1927 digunakan sebagai barak
militer KNIL.
![]() |
| Pelatihan parade tentara di Benteng Willem I sumber |
Beberapa catatan yang berhasil saya dapatkan adalah sebagai
berikut :
1865 : Terjadi gempa bumi besar yang mengakibatkan beberapa
bagian bangunan benteng hancur.
1927 : Benteng Willem I disesuaikan dari penjara tawanan
anak anak menjadi penjara tahanan politik dan tahanan dewasa
1942 – 1945 :
Dikuasai Jepang dan dipergunakan sebagai kamp militer
1945 : Markas besar TKR (Tentara Keamanan Rakyat) 14 Oktober
– 23 November 1945
![]() |
| Fort Willem I - 1947 sumber |
1950 : Sebagai penjara dewasa dan barak militer
1985 : Sebagai penjara anak anak dan barak militer
1991 : Sebagai Penjara kelas IIB dan barak militer
2003 – sekarang : Lapas Kelas II A dan barak militer
![]() |
| Fort Willem I - Google Map sumber |
Dengan sejarah yang masih mengambang tadi, saya sampai
beberapa waktu lalu terus terang masih belum tahu tentang keberadaan benteng
ini. Setelah klak klik di internet, barulah saya tahu akan ke indahan dan ke
eksotisan bangunan ini. Tidak banyak memang ulasan ulasan mengenai benteng ini
karena sekarang letaknya berada di kawasan militer Batalyon Kavaleri 2
Ambarawa.
Berawal dari penasaran yang menggebu gebu, akhirnya saya dan
pacar saya Rina, dan dua teman yang berhasil kami “culik” yaitu Izul dan Heni,
pada kamis sore tepatnya tanggal 15 Desember 2011, kami berempat bersepakat
untuk meninjau secara langsung benteng ini.
Berangkat dari Ungaran sekitar pukul 15.00, kami
sempat bingung untuk memasuki kawasan ini. Di sebelah RSUD Ambarawa ada semacam
tugu selamat datang di BENTENG.
![]() | |
| Gapura ke Beteng (versi ke belakang benteng) |
![]() |
| Benteng dari belakang RSUD Ambarawa |
Menurut teman saya di kantor, saya tempo hari disarankan
untuk memasuki kawasan ini dengan minta ijin dahulu di gerbang Batalyon
Kavaleri yang berada di Jalan Ambarawa – Banyubiru. Setelah sedikit memutar,
akhirnya kami sampai juga di gerbang ini. Dengan sedikit memantapkan hati, saya
dan Rina langsung dengan pede menghampiri pos jaga yang kebetulan waktu itu
dijaga oleh seorang tentara muda yang cakep.
![]() |
| Gerbang Yonkav 2/ Tank Ambarawa |
Hamid : Selamat Sore pak
Tentara : Sore mas.. bagaimana?
Hamid : Saya Hamid, kebetulan saya ingin melihat lihat
bangunan benteng yang ada di belakang kawasan ini. Gimana prosedurnya? Apa
meninggalkan KTP atau bagaimana?
Tentara : dari mana ini?
Hamid : saya dari magelang, tapi tinggal di Ungaran.
Tentara : Ok, nggak apa apa kalau mau lihat .. tapi nanti
sampeyan ijin dulu di situ soalnya itu dipake untuk lapas.. dan kaca helmnya
jangan ditutup ya..
Hamid : Baik pak.. tetapi kami berempat.. gimana?
Tentara : Hm…
(berfikir sejenak) iya nggak apa apa.. sudah tahu tempatnya kan?
Hamid : belum ..
Tentara : ini sampeyan lurus saja.. teruuus.. nanti
bentengnya udah kelihatan disitu..
Hamid : OK pak.. makasih ya…
Setelah meminta ijin, kami lalu memberi tanda kepada Izul
dan Heni dan langsung menuju ke tempat yang dimaksud..
Di perjalanan, kami menemukan sebuah SD yang
mempunyai desain indische
![]() |
| SDN Lodoyong 01 |
inilah SDN Lodoyong 2 yang berada di kompleks Yonkav ini..
tidak lama dari situ, sebuah benteng megah dengan kondisi yang sangat buruk
terhampar di depan mata.
Tidak disangka sangka, ternyata sedang ada tiga remaja yang
sedang foto foto di bagian depan benteng ini. Setelah itu, saya masuk ke dalam
dan mencari kantornya. Namun ternyata di kantor itu tidak ada orang. Dan saya
menemui seorang bapak yang merupakan salah satu pegawai yang melaksanakan
renovasi lapas. Menurut beliau, kita boleh memfoto foto sepuasnya. Kalau tidak
ada penjaganya ya tidak usah ijin.. Oiya, benteng ini sekarang dibagi dua,
untuk lapas dan sebagian besar untuk rumah para tentara.
Sejenak kami melihat desain khas dari kantor
dengan pintu pintu dan jendela jendela besar ini yang bertuliskan 1838 - 1845
yang menandakan bahwa benteng ini sudah berusia hampir dua abad. ![]() |
| Salah satu bangunan mirip suasana candi hindu (?) |
Sore itu cuaca sedang kurang baik sehingga kami harus rela
berjalan jalan diantara rerumputan dan tanah tanah becek. Tidak terurusnya
benteng ini juga semakin membuat benteng ini cepat rusak. Drainase yang tidak
pernah diperhatikan lagi, semakin menambah kesan angker dan kumuh pada benteng
ini.
Ternyata kami baru sadar bahwa benteng ini ditinggali
beberapa keluarga. Bahkan mungkin sekitar satu RT. Dan herannya lagi, kami
bahkan bisa jajan di sebuah warung. :)
![]() |
| Warung Benteng |

Tak
sampai situ saja keheranan kami sore itu ketika kami menemukan sebuah papan
nama di pojok benteng yang bertuliskan “MASJID” yang pada akhirnya memang kami
temui sebuah mushola kecil dalam kondisi yang (maaf) kumuh dan lembab.
![]() |
| MASJID |
![]() |
| Salah satu sudut tak terawat |
![]() |
| Tangga tidak terawat (kiri) dan tangga mungkin asli kayu jati sejak jaman dulu |
Beberapa bagian benteng disini malah dipergunakan sebagai
kandang ayam dan lagi lagi beberapa kotoran ayam berserakan di tangga yang mau
naik ke lantai 2.
![]() |
| Setelah naik tangga, didapatkan pemandangan seperti ini |
Kami menemui beberapa orang yang tinggal disitu dan
tersenyum kepada mereka untuk memperlihatkan bahwa kami bermaksud baik baik
(hehehe).
Langkah kami dilanjutkan dengan menaiki sebuah tangga yang
(menurut saya) terbuat dari kayu jati dengan konstruksi yang masih kokoh dan
saya mempercayainya itu adalah tangga yang dari jaman dahulu kala. Menaiki anak
tangga yang agak licin, akhirnya kami sampai di lantai 2 salah satu bagian
benteng ini.
Beberapa jendela jendela besar benteng ini malahan di semen
untuk sarang burung walet.
![]() |
| Kondisi yang mengenaskan |
Ternyata tanpa kami duga, barak barak pada benteng ini
sekarang digunakan sebagai tempat tinggal. Bahkan ada plang RT sekian RW sekian
Kelurahan Lodoyong, Kec. Ambarawa. Namun sore itu kami tidak menemui seorangpun
di rumah rumah ini. Kami berfoto foto ala kadarnya dan menjaga ketawa ketiwi
kami karena takut mengganggu ketenangan warga sini.
Setelah beberapa barak kami temui, kami melihat sebuah
jembatan yang menghubungkan sisi pinggir benteng ini dengan sisi tengah benteng
yang terbuat dari kayu. Agak menakutkan memang, namun kami tetap menikmati
suasana ini.
![]() |
| Jembatan Penghubung |
Selesai
darisitu, kami turun melalui tangga yang lagi lagi terbuat dari kayu. Disitu
juga ada sebuah tulisan kurang lebih bunyinya gini “HATI HATI HANDLE TANGGA
RUSAK”
![]() |
| Tangga turun dari lantai II |
begitu sampai bawah, kami menemukan sebuah lorong dengan
beberapa motor yang parkir disitu. Disitu ternyata ada semacam jalur keluar dan
kami duga jalur itu yang menuju ke gang sebelah RSUD Ambarawa.
Kami juga
menemui seorang perempuan yang sepertinya tinggal disini. Kami hanya tersenyum
saja tanpa saling sapa.
Perjalanan dilanjutkan dengan kondisi rerumputan basah dan
medan yang becek. Tidak jauh darisitu
tampak seorang bapak yang sedang melihat lihat ikan peliharaanya. Bapak bapak
yang namanya tidak mau disebutkan itu mengaku sudah lama tinggal disitu. Dan
dia berujar banyak juga yang tinggal disitu dan semuanya berjalan lancar. Kami langsung
mengetahui bahwa dia adalah tentara yang berasal dari bali karena di depan
barak miliknya kami jumpai sebuah tempat sesajen (aduh lupa namanya) yang
sering ditemui di Bali.
Setelah berbincang bincang sesaat, saya mulai berfikir bahwa
orang orang yang tinggal disini kurang begitu ramah. Entah itu hanya perasaan
saya saja atau bagaimana saya juga kurang tahu. Yang saya pikir waktu itu,
orang orang yang tinggal disini seakan akan memiliki tekanan mental. Dan
pikiran saya larinya ke kondisi tempat tinggal mereka yang juga benteng ini
yang makin hari makin kumuh dan tidak terawat.
![]() |
| Sisi sisi tidak terawat |
Lanjut perjalanan dan kami hanya menjumpai rumput rumput
tinggi dan kawasan yang jarang dipakai untuk jalan kaki. Disebuah sudut
bangunan yang kemungkinan besar adalah bekas kantor, bahkan telah tumbuh sebuah
pohon besar yang menegaskan bahwa bangunan ini luput dari perawatan. Kami terus
melangkah dan menemukan sebuah reruntuhan bangunan dengan pilar pilar besar
yang mana saat memfoto saya harus rela blusukan di semacam kubangan air.
![]() | ||
| Kantor utama dan sebelah kantor utama yang tinggal puing puing |
![]() |
| Water toren dan puing kantor |
Keadaan ini sungguh memprihatinkan. Bahkan ketika saya cek
salah satu ruangan di dalam reruntuhan ini ternyata digunakan sebagai kandang
ayam. Menyedihkan..
Jarum jam semakin menunjukkan bahwa mentari hendak segera
tenggelam, akhirnya kami lanjutkan memutar ke pintu lapas yang menghadap ke
bekas kantor benteng ini dengan kemegahan sebuah menara air.
Di dekat pintu masuk lapas, tergantung sebuah lonceng
bertuliskan AMSTERDAM 1843, saya berfikir ini adalah lonceng yang sangat kuno
dan dibuat di AMSTERDAM pada tahun itu.
![]() |
| Lonceng Amsterdam |
Berhubung waktu sudah menunjukkan waktu pukul 5 sore, dan
saya belum shalat ashar, akhirnya kami memutuskan untuk segera mengakhiri jalan
jalan sore ini.
Gambar - gambar lain :
![]() |
| Papan nama Lapas |
![]() |
| Sisa sisa benteng di tengah persawahan (apakah ini awal mula dinamai benteng pendem ya?) karena posisinya mirip terpendam |
![]() |
| Pintu masuk dan salah satu pintu yang telah di semen.. |
![]() |
| Kondisi yang sangat memprihatinkan |
![]() |
| Pesan dari Lapas II A Ambarawa |
![]() | |||
| Eksotisme Benteng |
Sumber: http://hamidanwar.blogspot.com



































Tidak ada komentar:
Posting Komentar