Translate

Minggu, 19 Mei 2013

BENTENG PENDEM AMBARAWA (FORT WILLEM I AMBARAWA)


Fort Willem I - 1927 sumber
















Selayang pandang :
Ambarawa merupakan salah satu kota kecamatan yang ada di Kabupaten Semarang. Selain dikenal dengan kemacetannya, kota ini juga dikenal karena memiliki sejarah yang cukup signifikan di Jawa Tengah.
Pada tahun 1840an ketika VOC berkuasa di Jawa Tengah, Ambarawa merupakan titik sumbu strategis antara Semarang dan Surakarta. Pada awal abad 18, VOC membangun benteng benteng di sepanjang jalur Semarang – Oenarang (sekarang Ungaran) – Salatiga – Surakarta (Solo). Rancangan ini dimaksudkan untuk pengembangan hubungan dengan Kerajaan Mataram. Kamp kamp militer juga dibangun di kota kota yang dilalui, tak terkecuali Ambarawa.
King Willem I sumber
Pada masa kekuasaan Kolonel Hoorn, tahun 1827-1830, sempat ada barak militer dan penyimpanan logistik militer, dan pada tahun 1834 dibangunlah sebuah benteng modern di Ambarawa yang kemudian diberi nama Benteng Willem I yang pembangunannya berakhir pada tahun 1845. 
Fort Willem I - 1927 sumber
Tidak banyak yang bisa digali tentang sejarah dari Benteng Willem I ini, dan beberapa sumber mengatakan bahwa benteng ini adalah barak militer KNIL yang terhubung ke Magelang/ Jogja dan Semarang via kereta api.
Pada umumnya benteng dibangun dengan prinsip defensif dan kuat yang dimaksudkan untuk pertahanan dari serangan musuh. Sering dijumpai pula dibangun parit mengelilingi benteng untuk memaksimalkan pertahanan.
Namun Benteng Willem I ini ternyata memiliki desain yang berbeda. Dengan banyak jendela, pastinya benteng ini bukan di desain untuk pertahanan. Kemungkinan adalah untuk barak militer dan penyimpanan logistik militer. Di benteng ini juga tidak dilengkapi bangunan sebagai tameng. Dan tidak ada bekas bekas lobang di puncak puncak dinding seperti halnya pada benteng benteng peninggalan Portugis yang dirancang untuk memasang meriam.
Karena keterbatasan informasi mengenai benteng ini, sementara ini yang saya ketahui adalah dari pembangunan 1853  sampai tahun 1927 digunakan sebagai barak militer KNIL. 
Pelatihan parade tentara di Benteng Willem I sumber
Beberapa catatan yang berhasil saya dapatkan adalah sebagai berikut :
1865 : Terjadi gempa bumi besar yang mengakibatkan beberapa bagian bangunan benteng hancur.
1927 : Benteng Willem I disesuaikan dari penjara tawanan anak anak menjadi penjara tahanan politik dan tahanan dewasa
1942 – 1945  : Dikuasai Jepang dan dipergunakan sebagai kamp militer
1945 : Markas besar TKR (Tentara Keamanan Rakyat) 14 Oktober – 23 November 1945
Fort Willem I - 1947 sumber
1950 : Sebagai penjara dewasa dan barak militer
1985 : Sebagai penjara anak anak dan barak militer
1991 : Sebagai Penjara kelas IIB dan barak militer
2003 – sekarang : Lapas Kelas II A dan barak militer

Fort Willem I - Google Map sumber
 
Dengan sejarah yang masih mengambang tadi, saya sampai beberapa waktu lalu terus terang masih belum tahu tentang keberadaan benteng ini. Setelah klak klik di internet, barulah saya tahu akan ke indahan dan ke eksotisan bangunan ini. Tidak banyak memang ulasan ulasan mengenai benteng ini karena sekarang letaknya berada di kawasan militer Batalyon Kavaleri 2 Ambarawa.
Berawal dari penasaran yang menggebu gebu, akhirnya saya dan pacar saya Rina, dan dua teman yang berhasil kami “culik” yaitu Izul dan Heni, pada kamis sore tepatnya tanggal 15 Desember 2011, kami berempat bersepakat untuk meninjau secara langsung benteng ini.
Berangkat dari Ungaran sekitar pukul 15.00, kami sempat bingung untuk memasuki kawasan ini. Di sebelah RSUD Ambarawa ada semacam tugu selamat datang di BENTENG.
Gapura ke Beteng (versi ke belakang benteng)
Dan kami masuk melewati tempat itu. Ternyata benteng ini sangat terlihat jelas berada ditengah hamparan sawah. Namun, ada kawat berduri sehingga kami tidak bisa memasukinya lewat situ.
Benteng dari belakang RSUD Ambarawa
 
Menurut teman saya di kantor, saya tempo hari disarankan untuk memasuki kawasan ini dengan minta ijin dahulu di gerbang Batalyon Kavaleri yang berada di Jalan Ambarawa – Banyubiru. Setelah sedikit memutar, akhirnya kami sampai juga di gerbang ini. Dengan sedikit memantapkan hati, saya dan Rina langsung dengan pede menghampiri pos jaga yang kebetulan waktu itu dijaga oleh seorang tentara muda yang cakep.
Gerbang Yonkav 2/ Tank Ambarawa

Hamid : Selamat Sore pak
Tentara : Sore mas.. bagaimana?
Hamid : Saya Hamid, kebetulan saya ingin melihat lihat bangunan benteng yang ada di belakang kawasan ini. Gimana prosedurnya? Apa meninggalkan KTP atau bagaimana?
Tentara : dari mana ini?
Hamid : saya dari magelang, tapi tinggal di Ungaran.
Tentara : Ok, nggak apa apa kalau mau lihat .. tapi nanti sampeyan ijin dulu di situ soalnya itu dipake untuk lapas.. dan kaca helmnya jangan ditutup ya..
Hamid : Baik pak.. tetapi kami berempat.. gimana?
Tentara : Hm…  (berfikir sejenak) iya nggak apa apa.. sudah tahu tempatnya kan?
Hamid : belum ..
Tentara : ini sampeyan lurus saja.. teruuus.. nanti bentengnya udah kelihatan disitu..
Hamid : OK pak.. makasih ya…
Setelah meminta ijin, kami lalu memberi tanda kepada Izul dan Heni dan langsung menuju ke tempat yang dimaksud..
Di perjalanan, kami menemukan sebuah SD yang mempunyai desain indische
SDN Lodoyong 01

inilah SDN Lodoyong 2 yang berada di kompleks Yonkav ini.. tidak lama dari situ, sebuah benteng megah dengan kondisi yang sangat buruk terhampar di depan mata.
 
Tidak disangka sangka, ternyata sedang ada tiga remaja yang sedang foto foto di bagian depan benteng ini. Setelah itu, saya masuk ke dalam dan mencari kantornya. Namun ternyata di kantor itu tidak ada orang. Dan saya menemui seorang bapak yang merupakan salah satu pegawai yang melaksanakan renovasi lapas. Menurut beliau, kita boleh memfoto foto sepuasnya. Kalau tidak ada penjaganya ya tidak usah ijin.. Oiya, benteng ini sekarang dibagi dua, untuk lapas dan sebagian besar untuk rumah para tentara.
Sejenak kami melihat desain khas dari kantor dengan pintu pintu dan jendela jendela besar ini yang bertuliskan 1838 - 1845 yang menandakan bahwa benteng ini sudah berusia hampir dua abad. 
Kantor utama benteng (mungkin bekas kantor kepala Benteng)
 
Suasana Kantor Utama Benteng


Salah satu bangunan mirip suasana candi hindu (?)
Sore itu cuaca sedang kurang baik sehingga kami harus rela berjalan jalan diantara rerumputan dan tanah tanah becek. Tidak terurusnya benteng ini juga semakin membuat benteng ini cepat rusak. Drainase yang tidak pernah diperhatikan lagi, semakin menambah kesan angker dan kumuh pada benteng ini.
Ternyata kami baru sadar bahwa benteng ini ditinggali beberapa keluarga. Bahkan mungkin sekitar satu RT. Dan herannya lagi, kami bahkan bisa jajan di sebuah warung. :)

Warung Benteng


  Tak sampai situ saja keheranan kami sore itu ketika kami menemukan sebuah papan nama di pojok benteng yang bertuliskan “MASJID” yang pada akhirnya memang kami temui sebuah mushola kecil dalam kondisi yang (maaf) kumuh dan lembab.
MASJID

Salah satu sudut tak terawat
Tangga tidak terawat (kiri) dan tangga mungkin asli kayu jati sejak jaman dulu
Beberapa bagian benteng disini malah dipergunakan sebagai kandang ayam dan lagi lagi beberapa kotoran ayam berserakan di tangga yang mau naik ke lantai 2. 
Setelah naik tangga, didapatkan pemandangan seperti ini
Kami menemui beberapa orang yang tinggal disitu dan tersenyum kepada mereka untuk memperlihatkan bahwa kami bermaksud baik baik (hehehe).
Langkah kami dilanjutkan dengan menaiki sebuah tangga yang (menurut saya) terbuat dari kayu jati dengan konstruksi yang masih kokoh dan saya mempercayainya itu adalah tangga yang dari jaman dahulu kala. Menaiki anak tangga yang agak licin, akhirnya kami sampai di lantai 2 salah satu bagian benteng ini.
Beberapa jendela jendela besar benteng ini malahan di semen untuk sarang burung walet.
Kondisi yang mengenaskan
 
Ternyata tanpa kami duga, barak barak pada benteng ini sekarang digunakan sebagai tempat tinggal. Bahkan ada plang RT sekian RW sekian Kelurahan Lodoyong, Kec. Ambarawa. Namun sore itu kami tidak menemui seorangpun di rumah rumah ini. Kami berfoto foto ala kadarnya dan menjaga ketawa ketiwi kami karena takut mengganggu ketenangan warga sini. 
Setelah beberapa barak kami temui, kami melihat sebuah jembatan yang menghubungkan sisi pinggir benteng ini dengan sisi tengah benteng yang terbuat dari kayu. Agak menakutkan memang, namun kami tetap menikmati suasana ini.
Jembatan Penghubung
  Selesai darisitu, kami turun melalui tangga yang lagi lagi terbuat dari kayu. Disitu juga ada sebuah tulisan kurang lebih bunyinya gini “HATI HATI HANDLE TANGGA RUSAK” 
Tangga turun dari lantai II
begitu sampai bawah, kami menemukan sebuah lorong dengan beberapa motor yang parkir disitu. Disitu ternyata ada semacam jalur keluar dan kami duga jalur itu yang menuju ke gang sebelah RSUD Ambarawa. 

Kami juga menemui seorang perempuan yang sepertinya tinggal disini. Kami hanya tersenyum saja tanpa saling sapa.
 
Perjalanan dilanjutkan dengan kondisi rerumputan basah dan medan yang becek.  Tidak jauh darisitu tampak seorang bapak yang sedang melihat lihat ikan peliharaanya. Bapak bapak yang namanya tidak mau disebutkan itu mengaku sudah lama tinggal disitu. Dan dia berujar banyak juga yang tinggal disitu dan semuanya berjalan lancar. Kami langsung mengetahui bahwa dia adalah tentara yang berasal dari bali karena di depan barak miliknya kami jumpai sebuah tempat sesajen (aduh lupa namanya) yang sering ditemui di Bali. 
Setelah berbincang bincang sesaat, saya mulai berfikir bahwa orang orang yang tinggal disini kurang begitu ramah. Entah itu hanya perasaan saya saja atau bagaimana saya juga kurang tahu. Yang saya pikir waktu itu, orang orang yang tinggal disini seakan akan memiliki tekanan mental. Dan pikiran saya larinya ke kondisi tempat tinggal mereka yang juga benteng ini yang makin hari makin kumuh dan tidak terawat.
Sisi sisi tidak terawat
 
Lanjut perjalanan dan kami hanya menjumpai rumput rumput tinggi dan kawasan yang jarang dipakai untuk jalan kaki. Disebuah sudut bangunan yang kemungkinan besar adalah bekas kantor, bahkan telah tumbuh sebuah pohon besar yang menegaskan bahwa bangunan ini luput dari perawatan. Kami terus melangkah dan menemukan sebuah reruntuhan bangunan dengan pilar pilar besar yang mana saat memfoto saya harus rela blusukan di semacam kubangan air.
Pilar pilar besar khas Indische
Kantor utama dan sebelah kantor utama yang tinggal puing puing

Water toren dan puing kantor
 
Keadaan ini sungguh memprihatinkan. Bahkan ketika saya cek salah satu ruangan di dalam reruntuhan ini ternyata digunakan sebagai kandang ayam. Menyedihkan..
Jarum jam semakin menunjukkan bahwa mentari hendak segera tenggelam, akhirnya kami lanjutkan memutar ke pintu lapas yang menghadap ke bekas kantor benteng ini dengan kemegahan sebuah menara air.
Di dekat pintu masuk lapas, tergantung sebuah lonceng bertuliskan AMSTERDAM 1843, saya berfikir ini adalah lonceng yang sangat kuno dan dibuat di AMSTERDAM pada tahun itu.
Lonceng Amsterdam
 
Berhubung waktu sudah menunjukkan waktu pukul 5 sore, dan saya belum shalat ashar, akhirnya kami memutuskan untuk segera mengakhiri jalan jalan sore ini.
Gambar - gambar lain : 
Papan nama Lapas




Sisa sisa benteng di tengah persawahan (apakah ini awal mula dinamai benteng pendem ya?) karena posisinya mirip terpendam






Pintu masuk dan salah satu pintu yang telah di semen..







Kondisi yang sangat memprihatinkan



Pesan dari Lapas II A Ambarawa

Eksotisme Benteng


 Sekian dokumentasi dari saya tentang Benteng Pendem Ambarawa / Fort Willem I Ambarawa.. Kedepaannya semoga bangunan bangunan seperti ini dapat di lestarikan. Karena memiliki daya tarik wisata yang luar biasa hebatnya.. bahkan saya berfikir, bangunan ini tidak kalah megah dengan Lawang Sewu Semarang yang terkenal itu...

Sumber: http://hamidanwar.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar